ilustrasi

NTP Maluku Agustus 2025 Terendah Nasional

88

AMBON, BERITAKOTAAMBON.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku merilis perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) bulan Agustus 2025. Hasilnya cukup memprihatinkan, yakni, NTP Maluku hanya tercatat 96,82 atau turun 1,29 persen dibanding Juli 2025 yang mencapai 98,08.

Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia, menjelaskan, penurunan ini terjadi akibat indeks harga hasil produksi pertanian (It) yang turun sebesar 0,88 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) justru naik 0,41 persen.

“Nilai Tukar Petani merupakan indikator untuk melihat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan. Semakin tinggi NTP, semakin kuat posisi petani dalam menukarkan hasil produksinya dengan barang dan jasa yang mereka butuhkan,” jelas Maritje, Selasa (2/9).

Secara nasional, NTP tertinggi pada Agustus 2025 terjadi di Provinsi Bengkulu dengan 201,80, sedangkan terendah ada di Maluku dengan 96,82. Dengan demikian, Maluku berada di posisi paling buncit atau peringkat ke-38 dari 38 provinsi.

Berdasarkan subsektor, tiga sektor utama di Maluku mengalami penurunan NTP, yakni, tanaman pangan turun 1,32 persen, tanaman perkebunan rakyat turun 3,01 persen, dan peternakan turun 1,12 persen.

Sedangkan dua subsektor lainnya menunjukkan peningkatan, yaitu hortikultura sebesar 0,47 persen dan perikanan yang naik signifikan 3,15 persen.

Selain NTP, BPS juga mencatat Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Maluku pada Agustus 2025 mengalami penurunan 1,20 persen, dari 110,96 pada Juli menjadi 109,63. Sementara itu, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) justru naik 0,40 persen.

Turunnya NTP menandakan daya beli petani Maluku semakin melemah. Penurunan harga hasil produksi pertanian yang tidak diimbangi dengan turunnya harga konsumsi maupun biaya produksi membuat posisi petani kian sulit.

Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian Maluku yang masih menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat di pedesaan, terutama pada subsektor tanaman pangan dan perkebunan rakyat. (IAN)

1 Menyukai postingan ini