Warga Leksula Dan Kepala Madan Butuh Jalan
Michiel Frits Leonrad Tasaney saat melakukan reses di Kabupaten Buru Selatan, belum lama ini.
Adm.RedaksiBKA
13 May 2022 08:25 WIT

Warga Leksula Dan Kepala Madan Butuh Jalan

BERITAKOTAAMBON.ID - Warga dari Kabupaten Buru dan Buru Selatan, tepatnya di Kecamatan Leksula dan Kapala Madan, minta agar pemerintah daerah membangun infrastruktur jalan yang menghubungkan kedua kecematan tersebut.

Permintaan tersebut disampaikan warga saat agenda reses yang dilakukan oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Maluku, Michiel Frits Leonrad Tasaney, di daerah pemilihan (Dapil) Kabupaten Buru dan Buru Selatan (Bursel).

"Reses saya kemarin didapil Buru dan Buru Selatan (Bursel), banyak masyarakat yang datang mengeluh, lebih khusus terkait dengan akses jalan penghubung antara Leksula dan Kepala Madan," ungkap Tasaney kepada awak media, Kamis(12/5).

Menurutnya, sangat tak heran kalau ada masyarakat yang mengeluh dan melakukan permintaan, ketika ada anggota DPRD Maluku yang melakukan agenda reses.

Sejak Indonesia merdeka hingga saat ini, terangnya, kondisi jalan yang menghubungkan dua kecamatan tersebut, khususnya menuju Desa Waituren dan beberapa desa lainnya itu sangat memprihatinkan. Bahkan saat ini jalan tersebut mengalami kerusakan parah, jika diterpa hujan yang lebat maka jalan itu menjadi lumpuh. 

Dilihat dari kondisi yang terjadi, lanjut Tasaney, Pemerintah Provinsi harus mengambil langkah cepat dengan mengalokasikan anggaran kepada pembangunan infrastruktur jalan tersebut. Karena, jika tidak dilakukan, maka masyarakat akan dirugikan.

Masyarakat di kedua kecamatan tersebut, tambahnya, memiliki sumber daya alam yang melimpah, seperti, hasil pertanian dan mereka biasa menyalurkannya ke pasar. Dan jalan tersebut merupakan akse masyarakat untuk ke pasar. Sehingga rusaknya akses jalan itu berdampak pada peningkatan ekonimi masyarakat.

"Banyak hasil pertanian, seperti, kentang dan lainnya. Tapi tidak dapat dioptimalkan karena biaya transportasi untuk ke pasar itu cukup besar dan sulit dijangkau oleh masyarakat. Karena harus menggunakan angkutan laut," jelasnya.

Dengan kondisi alam yang tak menentu, tambahnya, mengancam keberdaan masyarakat, sehingga dibutuhkan perhatian yang serius dari Pemerintah Provinsi.

"Sebagai wakil rakyat, kami akan meneruskan keluhan masyarakat kepada Komisi III bersama mitra. Tapi kami minta agar pemerintah jangan menutup mata terhadap setiap 
jeritan masyarakat," pinta Tasaney.

Selain itu, katanya, ada juga keluhan dari masyarakat di beberapa desa, seperti Desa Selawadu, Kecamatan Air Buaya, meminta Bronjong untuk Kali Waeli, akses jalan ke Danau Rana dan Air Bersih. Kemudian masyarakat dari Desa Wasbakat, Kecamatan Air Buaya, juga meminta Bronjong untuk sungai Waimangit dan jalan, serta adanya pembangunan SMA di desa tersebut. Dan Desa Waekose, Kecamatan Fena Lersela, meminta adanya  pengaspalan jalan sepanjang 2 km, kepastian erhadap status sejumlah desa persiapan dan bantuan 10 unit dari Bapesa yang belum memiliki kepastian.

Untuk Desa Waenopo, Kecamatan Namrole, warga meminta adanya pembangunan Talud Penahan Ombak dan jalan menuju pemukiman dibeberapa titik.

"Di desa Waeturen, Kecamatan Leksula,  warga meminta pembangunan jalan, air bersi, jembatan, penangan listrik PLN dan kondisi kesehatan yang juga perlu menjadi perhatian dan pemerintah. (RHM)

Dapatkan sekarang

Berita Kota Ambon, Ringan dan cepat
4 Disukai